Sebelumnya Crew Wota!Indo mau meminta maaf jikalau sekarang sudah jarang memuat postingan tentang review Wota!Trip ataupun review event lainnya, dikarenakan kesibukan sang penulis ini….
Wota!Trip kami dimulai pada Hari minggu tepatnya tanggal 3 oktober 2010.
Ada beberapa kejadian yang bikin kita menangis sekaligus tertawa bahagia di acara tersebut.
Tujuan kami pada waktu itu tidak lain yaitu JAK-JAPAN MATSURI yang diadakan di Monas untuk kesekian kalinya. Event ini merupakan event jepang berskala nasional yang diadakan tiap tahun. Matsuri sendiri di Jepang adalah istilah agama Shinto yang berarti persembahan ritual untuk Kami atau Dewa. Dalam pengertian sekuler, matsuri berarti festival atau perayaan di Jepang. Di daerah Kyushu, matsuri yang dilangsungkan pada musim gugur disebut kunchi.
Di Kebudayaan Indonesia sendiri perayaan semacam itu tidak ada sama sekali, sehingga timbul keinginan pemerintah jepang (sebut saja Japan Foundation,JICA,dll) untuk mengadakan perayaan Matsuri di Indonesia dengan tujuan promosi kebudayaan jepang di Indonesia sekaligus sebagai media pelepas rindu bagi para orang jepang yang tinggal di indonesia terhadap kampung halamannya (*perlu diketahui di Jakarta saja ada sekitar 1 juta warga Jepang yang menetap dengan berbagai profesi).
karena alasan itulah, para Wota!indo Crew sepakat untuk melintasi perbatasan kota Bandung untuk menuju Jakarta.
Perjalanan dimulai pada pukul 7 pagi, dengan bermodalkan 2 mobil, para Crew Wota!Indo yang berjumlah 11 orang pada saat itu dibagi menjadi 2 grup.
kami pun melaju melewati Pintu Tol untuk menuju ke Jakarta. di Jalan Tol kami sempat berhenti di Rest Area pertama dikarenakan mobil kami sempat terpisah, sehingga akhirnya sempat berhenti di Rest Area pertama agar bisa berbarengan kembali diperjalanannya, maklum sopir salah satu mobil tidak mengetahui seluk beluk jalanan menuju Jakarta. Setelah akhirnya berbarengan kembali, kami pun dengan santainya menuju tempat tujuan, lalu akhirnya kami pun tiba di Jakarta sekitar pukul 10, lebih cepat dari yang kami bayangkan. kami pun kemudian memasuki Area Monas dengan tujuan ingin menikmati suasana di sekeliling Monas terlebih dahulu.
Kami pun parkir di bagian selatan pintu Monas, turun dari mobil, udara Jakarta yang begitu panas mulai kami rasakan, padahal cuaca pada saat itu tengah mendung, karena yakin cuaca disekitar bakalan tetap panas, beberapa crew sepakat untuk tidak menaruh jaket di dalam mobil. kemudian kami langsung beranjak menuju Tugu Monas, dengan tujuan untuk berfoto ria dahulu di depan bangunan lambang kota Jakarta tersebut, maklum beberapa crew Wota!Indo pada saat itu ada yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Monas. waktu menunjukan pukul 11, kami akhirnya berpapasan dengan fans H!P lain yang sama2 berasal dari Bandung, kami pun akhirnya duduk sambil mengobrol di taman dekat lokasi eventnya diadakan, karena eventnya dimulai pukul 12, oleh karena itu kami tidak bisa begitu saja langsung memasuki lokasi eventnya.
dikarenakan salah satu crew Wota!indo sudah merasa lapar, kami pun akhirnya terpisah menjadi 2 grup, grup pertama mencari makan di Stasiun Gambir, grup kedua tetap menunggu ditaman sampai bisa masuk ke lokasi.
grup pertama akhirnya menuju ke kawasan stasiun Gambir untuk mulai mengisi perut mereka yang kosong.
…
Dengan konsep bertemakan Natsu Matsuri seperti tahun lalu JAK JAPAN MATSURI kali ini pun ramai di datangi para warga jepang, keturunan jepang, penggemar kebudayaan jepang, otaku, dan wota. Konsep yang ditawarkan JAK JAPAN MATSURI lebih menitik beratkan pada pure kebudayaan jepang sendiri ketika merayakan perayaan Natsu Matsuri. Kios kios yang berjejer mengelilingi lapangan dan panggung utama menawarkan berbagai macam jajanan khas jepang. Mulai dari makanan jepang, permainan khas matsuri di jepang, souvenir, hingga produk2 buatan jepang (motor, mie instan, minuman penambah ion tubuh, dll) memanjakan para pengunjung yang datang.
AKAN TETAPI…..
Entah panitia JAK JPN MATSURI tidak memperhitungkan cuaca ekstrim yang sedang dialami Indonesia saat ini, entah karena mereka salah menyewa pawang hujan, entah pihak panitia jepang tidak mengetahui buruknya sistem resapan air di lapangan rumput indonesia atau karena kesalahan tarian obon yang dibawakan malah menjadi tarian pemanggil hujan. Bisa dikatakan hari itu memang harinya hujan.
Dimulai setengah jam sebelum pembukaan JAK JPN MATSURI 2010 sekitar pukul 11.30 WIB hujan deras turun disekitar monas. Sial bagi para pengunjung yang datang di hari terakhir JPN MATSURI kemarin, karena hampir seharian penuh hujan tak kunjung berhenti. Sangking deras dan lamanya hujan, pada waktu terjadinya gerimis (hujan rintik-rintik) barulah para pengunjung yang hadir dan para pelaksana acara dapat melakukan kegiatan lagi. Stand-stand yang ada pun hampir setengahnya digenangi air. Dengan terpaksa semua orang2 pun menggulung celana panjangnya, beruntunglah pada hari iru yang memakai celana pendek, celana mini, bulma dan rok mini. Parahnya lagi tempat berteduh yang disiapkan di depan panggung utama (berupa tenda besar) hanya berfungsi sebagai sarana berteduh dari hujan yang deras tapi tidak untuk berlindung dari air yang menggenang bercampur lumpur yang ada di lapangan tersebut. Suasana hiruk pikuk tak menentu berlangsung pada waktu itu. Tetapi dasar orang Indonesia mau becek, mau banjir, mau jeblok kalo udah diniatin pasti enjoy aja. Acara pun dilanjutkkan seperti dalam jadwal di dalam genangan air.
Mulai dari tarian obon/matsuri yang dbawakan anak2 pekumpulan jepang SMA di sekitar Jakarta, mau tak mau mereka harus berbasah basahan. Image tarian obon (*bener g ne nama tariannya) pun runtuh seketika karena dibawakan di lapangan rumput berlumpur yang biasa kita lihat dan kita sebut sawah. Ditambah pada saat tarian-tarian jepang berlangsung, backsound yang dibawakan tak tanggung tanggung ‘kucing garong’, jadi terbayang melihat orang2 joged di konser2 dangdut.
Hari pun berlalu di tengah hujan yang tak menentu berhenti tidaknya. Mata perih, perut keroncongan akhirnya waktunya mencari kudapan yang tersedia. Beruntung bagi para wota Miya yang datang ke JAK JAPAN MATSURI kemarin karena salah satu stand nya menjual produk original jepang berlabelkan MIYA TAKO. Dijual dengan harga 15 ribu ( 4 buah), berbeda dengan takoyaki yang dijual di Indonesia pada umumnya. Miya Tako menawarkan Takoyaki panas sedap berisikan Tako (daging gurita) yang buesar di dalamnya. Pada saat ditanya bagaimana rasa dan sensai setelah memakan Miya tako kepada para pengunjung yang membelinya mereka hanya bisa menjawab: Miiiiiyaaaa Beaaammm~~~~!!!!! Doubell!!!! (pic stand d kang a lee).
Selanjutnya ketika kami jalan-jalan sambil makan miyatako, kami melihat ada satu stand yang namanya mengingatkan pada salah satu member Hello Projet yang tergabung dalam unit S/mileage yaitu Maeda Yuuka. Dia juga tergabung dalam shuffle group shugo chara dan High-King. Di stand tersebut menyediakan pakaian dengan style jepang.
…
Sesudah magrib, acara dilanjutkan ke arak-arak *dashi ( kereta yang dinaiki dewa dan di arak bersama sama) *note klo salah ralat aj, dengan penabuh *taiko di atasnya. Setelah selesai acara pun hening kembali, melihat susunan acara yang ada seharusnya pada malam hari berlangsung pertunjukan jazz di atas panggung. Sekali lagi Apa mau dikata・karena hujan yang mengguyur lebat sound sistem dan alat musik lainnya tidak dapat berkerja dengan baik. Akhirnya jam 20.00 pun ketua acara menyampaikan kepada para pengunjung bahwa acara ditutup.
Lemas, basah, senang, sedih kita rasakan menjadi satu sambil berjalan pulang ke parkiran mobil. Sesampainya di parkiran tiba-tiba (20.30 WIB) Duar~ sssyuuuut duarrr~ hanabi yang diperkirakan tidak jadi diadakan karena hujan pun bertebaran di langit.
(Kazero_Myaki)



















