Opini, kehidupan wota, karya tulis seorang wota Haro!recipe, Tips, kreativitas dikuras di sini…
—
How High is The Moon?
Sedari dahulu manusia telah mengagumi sang rembulan, sahabat sejati bumi. Dialah penerang di kala malam, jauh sebelum listrik masuk desa. Manusia mengagumi parasnya yang cantik, secantik sang kekasih. Jaraknya yang begitu jauh namun terangnya yang begitu dekat selalu dijadikan tolok ukur kekuatan cinta kasih insan manusia. How high is the moon? Its the same height as my love to you.
Tapi itu dulu, kini manusia lewat akal budinya telah menjelajahi, menjejakkan kakinya di wajah cantik sang rembulan yang ternyata dipenuhi bopeng besar. Tidak berapa lama kita menyadari bahwa jarak rata-rata dari bumi ke bulan ialah 384,403 km. Semua menjadi rasional, kini kita tahu persis how high is the moon.
Begitu pula dengan seni, karya cipta anak manusia lewat karunia yang dianugerahkan-Nya. Musik menjadi pemuas bagi telinga, lukisan dan fotografi adalah eye-candy, patung dan tarian adalah luapan emosi multimedia. Lewat seni kita terpuaskan, belajar sesuatu yang baru dan menjadi lebih bijak. Seni, bersama perasaan estetik adalah hadiah dari Tuhan agar manusia bisa selalu kagum dan mensyukuri keberadaan mereka di dunia ini.
Seni dan manusia menjadi tak terpisahkan, namun seperti halnya sang rembulan, kita lantas bertanya : how precious is the art?
Selamat datang di abad ke-21 kawan! Zaman di mana jarak tidak lagi diukur dalam deka per deka atau meter per meter. Kini semua dihitung dalam bit per bit, byte per byte. Eksistensi manusia kini berada pada dua dunia : dunia yang fana serta sebuah dunia maya bernama internet. “Klik” dan “ketukan keyboard” menjadi padanan dari “berjalan kaki” dan “bertemu orang”.
Dunia internet adalah Robin Hood. Dia membawa angin surga bagi rakyat jelata, menjadi godam penghancur tembok kesenjangan sosial. Namun sebaliknya dia adalah drakula bagi kalangan pebisnis, buldozer yang dalam sekejap mata bisa menghancurkan istana bisnis sang entrepreneur bersama dengan mimpi-mimpi sang seniman, sang penulis dan sang kreator.
Internet adalah investasi paling menjanjikan bagi siapa pun, dia menjanjikan keuntungan beratus bahkan beribu kali lipat dibanding modal yang ditanamkan. Dengan biaya berlangganan hanya 60 USD sebulan, Anda bisa mendapatkan puluhan game, film dan aplikasi terbaru; ribuan lagu dan buku; puluh-ribuan lukisan dan karya fotografi yang jika ditotalkan dapat berharga ribuan sampai jutaan US dollar.
Keuntungan sebesar 60,000 USD berbanding modal sebesar 60 USD? It’s a no brainer decision really! Sekejap saja dunia internet menjadi ladang bagi karya seni yang diedarkan secara gratis. Guratan tinta sang komikus, lengkingan pita suara sang vokalis, permainan piano sang maestro dapat diperoleh secara cuma-cuma, terlepas seberapa besar jerih payah yang telah ditumpahkan sang seniman. Kaum industrialis menyebutnya piracy (pembajakan) untuk menggambarkan betapa kapal harta mereka telah diberangus dan dicuri, atau sekedar memberi julukan seram bagi aksi itu sendiri.
Namun ketika semua orang melakukan hal yang tidak baik, tidakkah makna baik dan tidak-baik kembali dipertanyakan? Pertanyaan itu lantas terkuak kembali : how precious is the art? Apakah dia pantas diperlakukan seperti ini? Apakah seni adalah komoditas hanya bagi mereka yang mempunyai uang ataukah hak bagi semua orang tanpa terkecuali? Apakah keringat sang maestro harus dibayar dengan royalti, ataukah tanda gratitude bagi seorang uploader di forum-forum maya kenamaan adalah lebih pantas?
Realitas dan moralitas tidaklah hitam putih, dia abu-abu. Tulisan ini pun tidak dimaksudkan untuk menghakimi atau menggolongkan siapa yang salah dan siapa yang benar. Jujur saja, penulis pun masih menghamba pada IDM (internet download manager), aplikasi bernama µTorrent pun selalu aktif 1×24 jam, 25 hari dalam sebulan.
Penulis hanya dapat menawarkan alternatif-alternatif, semoga saja bermanfaat bagi Anda, pembaca yang budiman!
How precious is the art?
Manusia adalah makhluk logis, dia makhluk ekonomis. Ketika dia berkorban secara sadar, hampir pasti dia akan bertanya : sebesar apakah manfaat yang dapat saya peroleh lewat pengorbanan ini? Oleh karena itu mari kita menuju pertanyaan : sebesar apakah manfaat yang diberikan sebuah karya seni pada diri kita?
Sebagai contoh,
Kini kita terpesona pada satu grup idol, manufactured celebrity. Lewat paras cantik mereka kita menemukan kebahagiaan, lenggak lenggok tubuh mereka ketika berdansa memberikan kita keceriaan. Lewat musiknya kita menemukan makna, sebuah pelajaran atau sekedar teman di kala hati sedang sedih. Kita mengenali perilaku mereka, mengikuti keseharian mereka, sedih tatkala orang menghina mereka, larut dalam kebahagiaan ketika mereka mencapai keberhasilan. Lewat mereka kita berkenalan dengan rekan sehobi yang lantas menjadi sahabat, begitu kompak meskipun tak pernah bertatap muka secara langsung.
Pada saat itulah kita menyadari peran mereka tak bisa diukur dengan kuantitas semata, dengan tumpukan Rupiah, Dollar maupun Yen. Jarak mereka begitu jauh namun begitu dekat di hati penggemarnya, menciptakan impian yang lantas membuat sang penggemar lebih bersemangat menempuh hidupnya. Mempunyai tujuan.
Ketika kita mencintai seseorang tentu kita mau berkorban apa pun. Ketika kita merasa didukung oleh sebentuk karya seni tentu tidak ada salahnya untuk mendukung balik sang seniman.
Namun karya mereka begitu mahal, begitu banyak, begitu susah didapatkan. Membeli semuanya adalah keniscayaan. Pemborosan menjadi momok, ketakutan hidup melarat selalu menghantui.
Keseimbangan adalah kuncinya, saran penulis. Keseimbangan antara penghasilan dan pengeluaran, antara kebahagiaan dan jerih payah. Tidak berarti mengorbankan semuanya : jatah makan, jatah bersosialisasi, jatah pacaran atau biaya kesehatan. Menabung dan perencanaan keuangan yang tepat adalah pedang dan perisai kita di tengah peperangan batin ini.
Lalu apa yang akan kita dapatkan? Teknologi kita sudah sangat maju, reproduksi karya cipta bukanlah hal yang sulit. Bermodal printer paling modern, kita dapat menggandakan (meng-copy) sebuah karya cipta yang 95% mirip aslinya. Copy asli dari CD atau DVD, bernama ISO, begitu mudah didapatkan. Tidakkah pengeluaran dan jerih payah demi memiliki karya cipta asli ber-copyright menjadi sia-sia belaka?
Bayangkan surat cinta dari seorang pria yang ditujukan untuk kekasihnya, secarik kertas pink bertuliskan “Saya Cinta Kamu”. Entah karena air hujan atau air lainnya sebagian pesan itu pun terhapus menjadi : “S_ya _inta _amu”. Pesan itu tetap tersampaikan, dimengerti maknanya namun menjadi tidak utuh.
Pada setiap foto sang idola terdapat pesan yang ingin disampaikan oleh sang idola, sang fotografer, sang editor bahkan pihak perusahaan yang telah membesarkan sang idol. Pesan itu diciptakan dari tahap pra-produksi sampai tahap pasca produksi. Ketika sang idola berpanas-panas di lokasi pemotretan, ketika sang fotografer menyiapkan peralatan, mengedit gambar sampai proses percetakan; di situlah pesan itu terekam.
Ketika sang foto di-scan, diunggah di dunia maya, lantas diunduh, diedit kembali di monitor sampai diprint ulang di rental terdekat; telah terjadi distorsi pesan. Distorsi itu tidak seberapa, mungkin hanya ratusan pixel dari puluhan ribu pixel. Persis seperti surat cinta dari sang pria untuk kekasihnya yang kita bicarakan sebelumnya.
Pesan itu tetap tersampaikan, dimengerti maknanya namun menjadi tidak utuh.
Dan untuk keutuhan yang sedikit itu kita harus bekerja keras, menghemat, menabung. Namun di situlah seninya berada.
Pada akhirnya, manfaat pembelian tidak hanya terletak pada sensasi yang dirasakan mata, telinga, indera perasa atau indera penciuman. Semuanya kembali pada hati, kepuasan yang hakiki. Perasaan bangga ketika kita memiliki pesan itu secara utuh, perasaan lega karena kita sudah membayar sedikit hutang budi kita kepada idol / artis yang kita sukai. Dari situlah timbul kebahagiaan sesungguhnya dari keputusan pembelian.
Kembali, keseimbangan adalah kuncinya. Tahu apa yang kita inginkan dan sejauh mana kemampuan kita. Kesabaran untuk menabung serta perencanaan keuangan adalah pedang dan perisainya.
Untuk sejenak mari kita renungkan pepatah racun berikut :
Lebih baik menyesal karena membeli ketimbang menyesal karena tidak pernah membeli.
Peace Gan.. (  ̄ー ̄ )ノ …over and out.
(Wota!Indo #22)
—
- How High is The Moon?
- Apakah idolism adalah pelarian dari real romance?
- Poster stage Play Berryz terbaru, Sebuah Pencarian akan Wajah Wanita Sempurna? ∑(O_O;)
- (* ̄∇)ノ Our Very First Fanfict : Gangster Vs Wota (Idol Otaku)
- Kuota (Kucing Wota) Gendut part II –> Lots of pic ( ´∀`)
- Decipher Maji Bomber #2
- Decipher Maji Bomber #1
- Kuota Gendut (Kucing Wota Gendut)
- Benefit of Wota
- H!P, Takdir dan Wota
- Dunia wota adalah dunia hina?
- Worship of Idol


















